Cerita panas dewasa keperkasaan mas arif

Cerita panas dewasa keperkasaan mas arifby adminon.Cerita panas dewasa keperkasaan mas arifCerita panas dewasa keperkasaan mas arif – “ Aghh…ughh…..” “Whooahh…whuuahh…” Suara desahanku bersahutan dengan suara mas Arif yg setengah menjerit karena dia telah mencapai orgasmenya. “ Hosh..hosh…” “emphhh…emphmmhh..” Suara nafasku dan Nafas mas Arif yg tdk teratur akibat puncak persenggamaan kami. Cerita Sex Terbaru | Sesaat sebelum ejakulasi, tubuh mas Arif mengejang hebat dan sekitar 3–4 […]

Cerita panas dewasa keperkasaan mas arif – “ Aghh…ughh…..”
“Whooahh…whuuahh…”
Suara desahanku bersahutan dengan suara mas Arif yg setengah menjerit karena dia telah mencapai orgasmenya.
“ Hosh..hosh…”
“emphhh…emphmmhh..” Suara nafasku dan Nafas mas Arif yg tdk teratur akibat puncak persenggamaan kami.

memek sempit

memek sempit

Cerita Sex Terbaru | Sesaat sebelum ejakulasi, tubuh mas Arif mengejang hebat dan sekitar 3–4 kali k0ntolny menyemprotkan sperma hangatnya di dalam memekku dan rasanya membasahi rahimku. Namun aku tak khawatir karena aku sudah suntik KB. Dan ini bukan pertama kalinya mas Arif menyemprotkan air maninya di dalam.

Setelah mas Arif mencabut kemaluannya yg besar itu, kami segera membersihkan tubuh bersama-sama di kamar mandi.
Lalu sambil merokok dan menghabiskan air dingin satu gelas besar, mas Arif mengajakku ngobrol di atas kasur tempat dimana tadi kami berpacu dalam birahi.

Setelah mengecup lembut keningku mas Arif tidur di sisi sebelah kanan kasur kami. Kasurku dan suamiku, di sisi dimana biasanya suamiku tidur. Tak lama setelah dia tertidur, kupandangi wajahnya. Wajah lelaki yg baru saja menyetubuhi tubuh mulusku ini. Lelaki yg bukan suamiku.

Yah mas Arif bukan suamiku. Suamiku belum pulang dari kerja. Dan diwaktu siang hari seperti ini dimana saat kompleks perumahan kami sepi, entah sudah berapa kali aku bermain gila dengan mas Arif. Kuserahkan tubuh ini pada lelaki yg bukan suamiku. Dan parahnya lagi lelaki itu adalah istri orang. Istri mbak Ning, tetangga sebelah rumah kami. Yah mas Arif dan mbak Ning adalah keluarga yg tinggal di sebelah rumahku.

Masih sambil melihat wajah dan tubuh mas Arif yg sedang tertidur, pikiranku melayg kembali kebelakang saat kejadian yg entah apakah itu memalukan atau justru aku harus senang bahwa hal itu terjadi. Saat aku diperkosa mas Arif. Aku sendiri tdk tahu apakah kata-kata diperkosa pantas digunakan mengingat sampai tadi entah sudah berapa kali tubuh mulusku ini dipacu oleh mas Arif. Dan akupun tak tahu sampai kapan hal ini berlangsung. Dan aku juga tak ambil perduli. Rasa bersalahku memang ada mengingat suamiku yg sangat baik dan sayang padaku. Namun Godaan ini juga terlalu berat untuk kutahan. Atau aku sudah terjebak?? Ah entahlah aku tdk tahu lagi.

**********************************************

“ eeh kapan datang mbak…”
“ subuh tadi naik bis malam, ntar kerumah ya..!”
“ lho nih berdua-duaan pagi-pagi mo kemana toh..?”
“ mo kepasar, ni loh mas Arif udah kangen pengen dimasakin.”
“ nanti ke rumah ya Ratna, kita masak-masak bareng, mas Danu udah berangkat kerja?”
“ Sudah mbak baru aja…gak tau neh katanya lagi sibuk-sibuknya di kantor…”
“ Yo wes kalo gitu kami tak kepasar dulu ya, kamu ga usah masak Ratna, kita masak bareng yah…daaah..”
“ Daah mbak, ati-ati yaa…”

Mbak Ning dan Mas Arif memang pasangan yg serasi. Keduanya selalu tampak mesra dan murah senyum pada siapa saja. Mereka selalu ramah pada setiap orang dan merupakan pasangan yg sangat menyenangkan. Aku sungguh beruntung mempunyai tetangga seperti mereka. Bahkan walaupun aku dan suamiku baru pindah dua bulan di kompleks ini, mereka sudah menganggap aku seperti saudara sendiri.

Apalagi kompleks ini adalah perumahan sederhana yg baru dibangun sehingga penghuninya masih belum banyak. Suamiku memilih disini karena disamping harganya cukup murah dibanding perumahan lain, tempatnya tenang dan nyaman. Walaupun agak jauh dari jalan raya, namun melihat pergerakan industri di kotaku membuat kami yakin bahwa cepat ato lambat daerah sekitar perumahan kami akan ramai, dan harganya pasti akan naik. Itulah mengapa saat ada kesempatan dan rejeki untuk bisa membeli rumah, kami memilih di kompleks ini.

Karena belum banyak penghuninya maka, perumahan ini nampak sepi sekali. Bahkan di blok kami hanya ada segelintir keluarga. Salah satunya adalah keluarga mbak Ning dan mas Arif, yg kebetulan persisi disebelah rumah kami. Mas Arif bekerja di pabrik kaca nasional bagian maintenance mesin, dan lebih banyak kerja pada malam hari. Sementara Mbak Ning juga bekerja sebagai detailer salah satu farmasi, dan sering harus keluar kota.

Namun apabila di rumah, Mbak Ning selalu mengajak aku maen di rumahnya, entah itu hanya sekedar menggosip sampai makan-makan bareng. Apalagi suamiku mas Banu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan kebetulan baik keluargaku dan keluarga mbak Ning sama-sama belum punya anak. Dan karena sangat akrab, aku sudah biasa masuk rumah mereka seperti rumah sendiri, begitu juga dengan mereka. Bahkan aku sering minta mas Arif untuk membetulkan sesuatu di rumahku bila ada yg rusak.

*****************************

“ Sendirian aja Ratna..?”
“ Eeh…iya mas..” Kedatangan mas Arif secara tiba-tiba mengejutkanku yg sedang mencuci piring dan gelas di dapur.
“ ngopi mas?” tanyaku, sambil membereskan gelas dan piring yg baru saja kucuci. Terus terang aku agak grogi, karena ini pertama kalinya aku dan mas Arif benar-benar berdua.

Mbak Ning tadi shubuh sudah berangkat ke luar kota, sementara suamiku kemaren sore juga pergi ke luar kota.

“gak usah Ratna, ada yg mau aku omongin sama Ratna neh..” suara mas Arif yg berat ditambah perkataanya tadi membuatku makin deg-degan. Namun aku singkirkan perasaan ini. Toh mas Arif sudah aku anggap sebagai sodara sendiri.
“ada apa sih mas koq kayaknya serius banget nih, yuk ngobrol di ruang tamu aja” ajakku sambil berjalan menuju ruang tamu.

Sampai di ruang tamu aku agak terkejut melihat pintu rumah dalam keadaan tertutup, tapi aku tdk berpikiran macam-macam, mungkin mas Arif sengaja menutup lagi. Lalu aku duduk di sofa ruang tamu, dan mas Arif duduk menjejeri aku.

“ada apa mas, ngomong aja!” ujarku sambill tersenyum berusaha untuk santai.
“ Ratna, maaf kalo apa yg mau aku omongin ini bikin kamu kaget” aku jadi tembah deg-degan mendengar perkataan mas Arif.
“ Ratna, dari pertama aku ngeliat kamu, aku jadi kepikiran kamu terus “ dan benar akupun kaget mendengar perkataan mas Arif ini dan berusaha menerka apa maksudnya.
“ hampir tiap malem aku mbayangin kamu Ratna, kamu ayu, seger, bahenol, aku bener-bener ga tahan Ratna “ belum sempat aku berkata apa-apa mas Arif sudah memegang tanganku.

“ maksudnya apa sih mas “
“ aku pengen kelonan sama kamu Ratna, aku udah ga tahan dan ngiler banget liat kamu, aku tahu pasti kamu ngira aku laki-laki bajingan dan kurang ajar, tapi aku ga perduli Ratna, pokoknya aku pengen sekarang kita kelonan” kini satu tangan mas Arif sudah merangkul pundakku.

Lidahku rasanya kaku tdk bisa bilang apa-apa, dan tentu saja aku takut setengah mati.

“ mas inget mas, kita udah berkeluarga, mas tolong mas” aku berusaha melepaskan rangkulan tangan mas Arif.
“aku ga perduli Ratna, aku tahu kamu bakal nolak, tapi aku tetep maksa, aku minta baik-baik Ratna, memang kedengerannya gila, tapi aku udah gak tahan liat kamu, pengen cepet cepet bobok ama kamu, aku ga mau perkosa kamu, aku sayang kamu Ratna, tapi kalo kamu nolak, mau gak mau aku akan perkosa kamu, dan aku udah mikirkan ini” omongan mas Arif semakin membuatku takut, rangkulan tangannya semakin kuat menekan pundakku berusaha merapatkan tubuhku ke arah tubuhnya.

“mas jangan mas, inget mas, inget keluarga kita masing-masing mas” aku berusaha menenangkan diriku sendiri
“udahlah Ratna, mau ya, justru kalo kamu masih sayang sama keluara kita masing-masing kamu kudu mau, kalo enggak mau aku tetep maksa, dan aku udah niat mau perkosa kamu Ratna, aku udah ga tahan”
“ mas inget mas….” Aku jadi semakin takut, dan aku tdk tahu lagi mau berbuat apa, aku putuskan untuk lari, aku ga percaya hal ini. Mas Arif dan mbak ning yg sudah kuanggap sebagai sodara sendiri.

“ aahh mas tolonglah mas, aahh…inget mas…” tanganku dicengkeram dengan kuatnya olah mas Arif saat aku berusaha lari.
“ aku juga minta tolong Ratna, nurut aja ya…percuma kamu mo kabur kemana?, kalo kamu ga ngikutin apa mauku, nanti keluarga kita malah berantakan, apa kamu berani ngomong sama suamimu??”
“ mas….” Aku Cuma bisa menangis, aku kalut dan takut
“ ayolah Ratna, cuman kita aja yg tau, aku udah ga tahan neh pengen ngelonin kamu, kalo kamu ga nurut aku ga tahu apa yg bakal terjadi, aku ga mau ngancem “

Seketika juga mas Arif membopong tubuhku, lalu berjalan ke arah kamar tidurku.Aku hanya bisa menutup mata dan menangis. Ya ampun aku takut sekali. Dan kurasakan kini tubuhku telah dibaringkannya di atas kasur. Pelan-pelan kubuka mataku, kulihat mas Arif sedang mengunci pintu kamar.

“ mas tolong mas, ingat mas…” aku masih berusaha menyadarkannya,walau suaraku kalah oleh isak tangisku.
“ sudahlah Ratna, aku ga mau nyakitin kamu, aku sayang kamu Ratna..”
“ hmpppmhhhh…” tiba-tiba mas Arif mencium bibirku ganas, kedua tanganku ditahannya kuat sekali.

Kukatupkan bibirku rapat-rapat sambil berusaha memberontak. Namun nampaknya mas Arif sudah tdk perduli, otaknya sudah dikuasai hawa nafsunya. Dia tetap saja mencium bibirku, sambil menahan tanganku dengan kuat.

“ BUUUGGGHHH..!!!” tiba-tiba mas Arif meninju bantal tepat di sebelah kepalaku dengan kuat, membuat aku semakin takut, dan tangisanku makin menjadi.
“ Ratna aku ga mau maen kasar, aku juga ga suka kasar sama kamu, jadi Ratna nurut ya sayang..” sambil tersenyum mas Arif mengucapkan kata-kata itu, dan memang nadanya diucapkan dengan lembut.

Aku tdk tau harus berbuat apa, aku hanya bisa berdoa dan menangis. Kini mas Arif mencopot kaosnya, nampak tubuhnya yg memang kuakui lebih berisi ketimbang suamiku. Dadanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Setelah itu sekarang dia perlahan meremas payudaraku dengan perlahan dari luar dasterku. Yah aku memang hanya menggunakan daster selutut kalau di rumah dan sialnya aku jarang menggunakan bra sehingga dengan mudahnya mas Arif menemukan putting payudaraku dan mulai memainkannya bergantian anatara yg kiri dan kanan.

“ hmm… Ratna tetekmu kenceng banget, ga kegedean juga ga kekecilan, pas ama seleraku sayang…akhirnya aku bisa juga megang tetekmu yg sekal ini..”

Perlahan dicopotnya dua buah kancing dasterku, lalu tanggannya mulai menyusup kedalam mencari payudaraku yg sebelah kiri. Diremas-remasnya lalu dipelintirnya putting payudaraku. cerita sex

Lalu tiba-tiba….

“KREEEKK….” Sekali hentakan disobeknya bagian depan dasterku, hingga kini kedua payudaraku nampak tanpa tertutup apa-apa lagi.

Aku semakin takut dan hanya bisa menutup mataku sambil menangis perlahan.

“ hmmm.. Ratna tetekmu emang bener-bener indah sekali…ga rugi aku nekat…” lalu dengan rakusnya diremas dan dijilatinya satu persatu kedua payudaraku.
“ hmpph….tetekmu enak banget Ratna, kamu juga keenakan kan sayang…”
“ uhk…hu…ihk…” aku hanya bisa terisak, aku tdk tahu harus berbuat apa, saat mas Arif menggigit-gigit kecil putting payudaraku..
“heesssppppp…..” mas Arif menghisap payudaraku, rupanya dia membuat cupang di atas putingku.

Setelah puas bermain dengan buah dadaku mas Arif membuka seluruh dasterku yg sudah disobeknya tadi, aku hanya menangis dan pasrah tak tahu lagi harus berbuat apa. Kini di tubuhku hanya menyisakan celana dalam, aku yakin tak lama lagi pasti celana dalam ini juga akan dilepasnya. Dan mas Arif berhasil melihat seluruh lekuk tubuhku.

Aku mengatupkan kedua tanganku di atas dadaku, hanya itu yg bisa kuperbuat, mataku sama sekali terpejam, aku tdk sanggup untuk melihatnya. Dan benar tak lama kemudian mas Arif memelorotkan celada dalamku. Nampaklah kini kelaminku, sesuatu yg harusnya kujaga dan hanya dapat kuberikan untuk suamiku, kini dengan mudahnya mas Arif bisa melihatnya.

Sesaat mas Arif tdk menyentuhku, dari suara yg aku dengar, aku rasa dia mencopot celananya.

“Ratna sayang buka matanya…” diusapnya air mataku, namun aku masih tdk berani membuka mataku.
“Ratna tolong jangan sampe aku maen kasar, aku ga mau maen kasar sama kamu..” mendengar ancaman mas Arif aku menjadi takut, perlahan kubuka mataku yg masih tak henti-hentinya mengucurkan air mata.

Dan kini kulihat mas Arif berdiri disamping tempat tidur dalam keadaan telanjang. Kemaluannya sudah menegang keras sekali, nampak kalau dia memang sudah dikuasai nafsu birahi. Kemaluannya cukup besar, aku akui lebih panjang dan lebih besar ketimbang milik mas banu suamiku.

“ duduk Ratna…duduk sini….” Ditariknya tubuhku supaya aku duduk menghadapnya.

Aku tak tahu apa yg akan dilakukannya terhadapku. Kini aku duduk dihadapannya dan wajahku kutundukkan karena wajahku tepat berada di depan kemaluannya yg sedang tegang itu.

“ hei Ratna buka matanya, ga usah malu…” diangkatnya daguku dan kini wajahku tepat di depan kelaminnya yg besar itu.
“ pegang ini sayang…ga lama lagi Ratna akan keenakan sama kntol ini…hehehe…” diambilnya tanganku lalu diarahkannya untuk memegang kelaminnya.

Ini pertama kalinya aku memegang kelamin laki-laki selain milik suamiku.

“ besar kan sayang?…hehehe…besar ga..? jawab dong…” aku hanya berani mengangguk kecil. Wajahku kembali aku tundukkan.
“ Loh koq diem aja…ayo dihisep donk….masa ga pernah ngisep kntol? …” aku terkjejut mendengar perintahnya, ya ampun aku belum pernah menghisap kelamin laki-laki, bahkan punya suamiku sekalipun, aku merasa aneh kalau harus menghisap kelamin laki-laki.
“ HISAP RATNA!!!! ISEP!!! Dikasih barang enak koq nolak…?” aku kaget mendengar bentakannya, lalu tiba-tiba ditekannya kepalaku maju kearah kelaminnya. Aku takut dan merasa jijik.

Aku menutup mata saat mukaku menempel dgn kelamin mas Arif.

“ auugghhh…” rambutku dijambak mas Arif, lalu tangannya yg satu menyodorkan kelamin itu ke arah mulutku. Aku hanya menutup mata dan menutup mulutku.
“ hisep Ratna, tolong jangan paksa aku maen kasar…” dengan terpaksa dan ketakutan kubuka mulutku dan masuklah kelamin yg besar itu kedalam mulutku.

Lalu diarahkannya tanganku lagi untuk memegang kelaminnya. Sementara tangan mas Arif masih menahan kepalaku.

“ Isep sayang….kamu ga pernah isep kntol ya?..” aku menggeleng pelan.
“ bagussss…hahaha….nah sekarang isep yg kuat, enakkan???” walaupun merasa aneh dan jijik, dengan terpaksa aku hisap juga kelamin mas Arif yg besar ini. Aku hanya berharap semua ini cepat selesai.
“ oohhhh uuhhhh enak banget Ratna….terus hisep yg kuat sayang…” mas Arif masih menahan kepalaku, dan aku masih menghisap kelaminnya.

Aku tak tahu lagi apa yg kulakukan, aku hanya menurut perintahnya karena aku takut.

Sekitar 10 menit aku menghisap kemaluan mas Arif, dan rasanya mulutku ini capek. Air mata ini masih terus menetes. Tiba-tiba tekanan tangan mas Arif dikepalaku semakin kuat.

“ ouugghhh Ratnaaa….isep terus yg kenceng…yg kenceng,….” Kini pinggul mas Arif mulai ikut maju mundur, menyodok kemaluannya didalam mulutku. Dan rasanya semakin lama semakin cepat.
“ oougghhh….aku mau keluar Ratna, jangan dilepasin, aku pengen keluarin pejuku di bibirmu yg seksi….” Aku terkejut mendengar kata-kta mas Arif, tapi cengkaraman tangan mas Arif yg menahan kepalaku semakin kuat, dan aku hanya bisa pasrah.
“ ouuhhhhgggg……ahhhh…..enaaak bhhangeeetthh…..” dan seketika keluarlah sperma mas Arif hangat dan kental membanjiri mulutku.

Kepalaku masih ditahan oleh kedua tangannya, ini pertama kalinya aku merasakan air sperma, entah apa rasanya aku sudah tdk perduli, yg aku inginkan adalah ini cepat berakhir. Lalu diangkatnya daguku sehingga wajahku menghadap ke atas. Sementara kelaminnya masih di dalam mulutku berdenyut-denyut.

“ enak banget Ratna…ahhh…. Kamu juga enak kan…ntar juga kamu pasti ketagihan sama peju ku….sekarang telan semua jangan sampe dimuntahin…awas…!!!” dengan terpaksa kutelan sperma mas Arif, skali lagi aku sudah tdk perduli yg aku inginkan saat ini adalah semua ini cepat berakhir.
“ nah sekarang isep neh, ada kluar dikit, nanggung kalo ga diabisin..” mas Arif menekan kelaminnya, keluarnya sedikit air spermanya, dan aku disuruh menghisapnya.

Jujur aku merasa terhina sekali namun aku tak tahu harus berbuat apa.

“ bagus…Ratna kamu cepet belajarnya…bener-bener ga sia-sia aku nekat seperti ini..” lalu tubuhku kembali dibaringkannya di atas kasur.

Mas Arif ikut berbaring di sebelahku. Aku hanya bisa menutup dadaku dengan tanganku. Mas Arif membelai-belai rambutku, sementara tangan satunya menggeraygi tubuhku, mengelus-elus perutku, pinggulku juga pahaku.

“ Ratna maafin aku yah…aku sayang sama Ratna dan ga tahan liat Ratna…aku janji asal Ratna mau nurut semua akan baik-baik aja dan aku ga mau maen kasar…”

Lalu mas Arif naek ke atas tubuhku. Dibukanya kedua tanganku yg menutupi dadaku tadi. Lalu kembali di jilatinya payudaraku bergantian kiri dan kanan dengan rakusnya. Lalu perlahan dijilatinya seluruh tubuhku, mulai dari perut, ke pinggul ke paha sampai ke kaki, lalu jilatannya naik lagi hingga leherku. Kembali dengan buasnya leherku diciumi dan dijilantinya.

“ hmmhhh….hppmmmmhhhh…..” nafas mas Arif terasa beras terdengar ditelingaku saat dia dengan lembutnya mengecup dan bermainlidahnya di sekitar telingaku.
“eempphh….” Aku sendiri terkejut ketika secara tak sadar aku ikut mendesah. Dan sesahanku semakin kuat ketika mas Arif kembali bermain-main di putting payudaraku.
“ uuhhmmmppp…” tiba-tiba perasaan geli melandaku, aku tak tahan dengan cumbuan mas Arif, birahiku terusik. Apalagi kini mas Arif menggigit putingku dengan lembut.

“ouughh….” Aku juga tdk tahu kenapa tiba-tiba tubuhku bereaksi ikut menggeliat seakan-akan menikmati cumbuan mas Arif.

Gakmungkin!! Ga boleh!! Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri.

“ AUUUHHHGGG….” Aku menjerit, saat tiba-tiba mas Arif menyentuh kelentitku.

Persaan geli itu makin besar saat mas Arif mulai menggelus-elus tonjolan di atas bibir kelaminku.

“ muuaahh…ayo Ratna…kita nikmatin sama-sama ya sayang….aku ga mo kasar sama Ratna..aku akan kasih kamu kenikmatan…” mas Arif mengecup pipiku dan membisikkan kalimat itu di telingaku.

Aku hanya menutup mata, aku tdk berani melihat semua ini, tapi aku tdk tahu kenapa dengan diriku sekarang. Tubuhku bereaksi, birahiku menggeliat seakan lupa dengan siapa sekarang aku ini. Dan aku tak sempat berpikir lagi saat kurasakan kedua kakiku dibuka oleh mas Arif dan dia mulai menciumi liang kelaminku dengan lembut.

“ hmmphh….hrupmmp….” terdengar bunyi bibirnya beradu dengan bibir kemaluanku.

Dan aku tdk kuasa melawan rasa ini, yah rasa geli yg belum pernah kurasakan. Belum pernah mas baru mencium kelaminku. Kini sekali lagi untuk pertama kali aku mengalaminya dengan mas Arif. Tetanggaku yg sedang memperkosaku.

“ uuuhhh….uuuhh….” kurasakan jebol juga pertahanannku, jilatan lidah mas Arif di dalam kelaminku bersamaan dengan jarinya yg memainkan kelentitku membuat aku tak kuasa menahan semua ini, aku rasanya sudah tdk mampu berpikir lagi.

Geli…yah geli yg kurasakan…geli yg nikmat…tp ini salah!! Ini tdk boleh…aku tdk boleh menikmatinya. Perang batin terjadi dalam diriku namun serangan-serangan mas Arif membuat aku tak mampu berpikir. Apalagi kini dia menghisap kelentitku dengan ganasnya.

“ ooouuuugghhhhh……” aku tdk tahan, jujur kuakui ini belum pernah kurasakan.

Sensasi yg nikmat, saat mas Arif tak henti-hentinya menghisap-hisap kelentitku. Tak sadar tanganku mencengkrram seprai kasurku. Dan tubuhku mengejang, tiba-tiba aku dapat merasakan aliran darah dalam tubuhku, dan rasanya ada sesuatu yg akan meledak dari dalam tubuhku ini.

“ooouuggghhh…..” aku melenguh panjang, tubuhku mengejang, kelaminku berdenyut-denyut, nafasku semakin cepat. Aku orgasme, yah aku orgasme.

Ah betapa memalukannya diriku ini orgasme dengan org yg memperkosaku. Tapi aku akui orgasme ini panjang dan luar biasa sensasinya. Aku makin bingung dan malu. Aku hanya menutup mataku.

“muuacchh….” Aku merasakan mas Arif mencium bibirku. Lalu diangkatnya sedikit pantatku dan pahanya menahan pahaku.

Aku menduga dia akan melakukannya sekarang. Sementara aku masih tersengal-sengal dengan orgasmeku tadi, kurasakan sesuatu menyentuh liang kelaminku dan aku yakin itu kemaluan mas Arif.

“ Ratna buka matamu…” saat kubuka mataku kulihat wajah mas Arif, dan tubuhnya berada di atas tubuhku.
“ sudah lama aku pengen kelonin kamu, nikmatin tubuhmu Ratna….aku masukin sekarang ya sayang….!! Jawab!! “ aku mengangguk pelan, aku pasrah, aku malu, ah entahlah aku tak tahu lagi.

Akhirnya kurasakan kelamin mas Arif masuk menerobos liang kemaluanku. Rasanya sesak dan penuh. Dan kuakiui rasanya nikmat sekali. Rupanya mas Arif sangat pintar dan lihai dalam berhubungan badan. Hentakan-hentakan dan genjotannya terhadap tubuhku selalu mengenai titik nikmatku. Dan aku akui aku dibuat lemas oleh permainannya.

Siang itu kurang lebih selama 1 jam mas Arif melepaskan hasratnya terhadap tubuhku. Setelah itu kami tertidur, akupun tertidur dalam pelukannya. Aku menangis dalam hati, apakah aku ini, aku sudah melanggar janji suci perkawinanku, atpi aku tak tahu harus berbuat apalagi. Dan aku akui aku menikmati apa yg mas Arif lakukan terhadap diriku.Malamnya mas Arif tdk ngantor, dan menginap di rumahku.

Semalaman, tubuhku dipacu oleh hasrat birahinya, sekali saar kami mandi bersama-sama, sekali saat aku didapur mas Arif menyetubuhiku sambil berdiri dari belakang. Dan puncaknya dikamar tidur, aku benar-benar menjadi pemuas nafsu mas Arif hingga shubuh. Walaupun aku hanya diam, tapi aku tak kuasa menolak ajakannya. Apapun yg diminanya selalu aku turutin. Aku sendiri tdk tahu kenapa.

Author: 

Related Posts