Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 52

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 52by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 52Pendekar Naga Mas – Part 52 Ternyata memang tak salah, malam itu ketika Bwe Si-jin sedang menemani Ni Ceng-hiang minum arak, Im Jit-koh masuk ke dalam ruangan dan berkata dengan hormat, “Lapor Hu-kaucu, orang-orang itu sudah berangkat!” Dengan bangga Ni Ceng-hiang mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. Menggunakan kesempatan itu Bwe Si-jin segera mengedipkan mata berulang […]

multixnxx-Women with Big Labia -12 multixnxx-Women with Big Labia -13 multixnxx-Women with Big Labia -14Pendekar Naga Mas – Part 52

Ternyata memang tak salah, malam itu ketika Bwe Si-jin sedang menemani Ni Ceng-hiang minum arak, Im Jit-koh masuk ke dalam ruangan dan berkata dengan hormat, “Lapor Hu-kaucu, orang-orang itu sudah berangkat!”

Dengan bangga Ni Ceng-hiang mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.
Menggunakan kesempatan itu Bwe Si-jin segera mengedipkan mata berulang kali ke arah Im Jit-koh.

Tertegun juga Im Jit-koh melihat hal itu, bukankah mereka berdua berbicara dengan riang gembira, mengapa Bwe Si-jin memberi tanda kepadanya?

“Jit-koh, mari duduklah kemari dan minum beberapa cawan dulu,” buru-buru Bwe Si-jin berkata lagi sambil tertawa.
“Tidak usah, hamba masih ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan,” jawab Im Jit-koh cepat.

Seusai berkata dia segera memberi hormat dan cepat berlalu dari situ.
“Engkoh Jin,” ujar Ni Ceng-hiang kemudian sambil berhenti tertawa, “tunggulah kabar baik bagaimana biara Siau-lim musnah dari muka bumi.”

Walaupun dalam hati merasa terperanjat, namun dalam penampilan dia tetap tertawa, sahutnya sambil mengangkat cawan, “Semoga saja begitu!”
Habis berkata, ia pun meneguk habis isi cawannya.
Ni Ceng-hiang ikut meneguk habis isi cawannya, kemudian tertawa lagi.

0oo0

Siapa tahu, tengah hari ketiga, masuk kabar yang memberitahukan bahwa Manusia pelumat mayat telah beraksi kembali di depan rumah makan Ui-hok-lau.
Mendapat laporan itu, cepat Ni Ceng-hiang meninggalkan ruangan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh.

Selang beberapa saat kemudian tampak Im Jit-koh menyelinap masuk ke dalam kamar dan bertanya dengan lirih, “Tongcu, apa yang telah terjadi?”

“Jit-koh,” sahut Bwe Si-jin cepat, “cepat utus Siau-hong untuk mencari adikku, Kaucu telah menaruh curiga kepada kita, kini ilmu silat Lohu sudah ditotok olehnya, jadi kau sendiri pun harus lebih berhati-hati!”
“Benarkah itu?” tanya Im Jit-koh dengan wajah berubah.
Bwe Si-jin manggut-manggut.
“Tak bakal salah! Lebih baik cepatlah suruh Siau-hong mencari seorang Kongcu yang menggunakan nama Yu Si-bun atau Ong Bu-cau!”
“Baik! Aku segera laksanakan!”

Bercerita sampai di sini, kembali Siau-hong menambahkan, “Ni-hukaucu segera mengutus jago-jago lihai partainya datang kemari setelah mendapat kabar kalau Cicinya tewas di tangan Kongcu, dengan menyelinap di antara merekalah budak berhasil tiba di tempat ini!”
Cau-ji termenung sambil berpikir sejenak, kemudian ujarnya, “Siau-hong, terima kasih banyak atas laporanmu, selama ini pasti sudah menyusahkan dirimu!”

“Kongcu, ah salah, Tongcu,” ujar Siau-hong dengan hormat, “semua ini merupakan tugas budak, lagi pula kau telah membantu Siaumoay melepaskan iblis keji (Ciangkwe Jit-seng-ciu-lau) itu!”
“Siau-hong, siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?” tanya Cau-ji keheranan.

Tongcu, budaklah yang mengetahui sendiri rahasia ini, karena waktu itu kebetulan budak sedang mencari iblis itu.”

Habis berkata dia segera menjatuhkan diri berlutut.
Cepat Cau-ji membangunkannya dan berkata, “Siau-hong, aku tahu nasib dan pengalamanmu sangat tragis, itulah sebabnya kubantai bajingan itu, masalah ini tak perlu kau pikirkan.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya pula kepada dua bersaudara Suto, “Cici, Bwetoasiok menjumpai masalah besar, bagaimana cara kita menolongnya?”

Dengan penuh keyakinan sahut Suto Si, “Adik Cau, menurut apa yang dituturkan Siau-hong tadi, tampaknya Ni Ceng-hiang tidak berniat mencelakai jiwa Bwe-toasiok, jadi kita pun tak usah kelewat tegang dan panik!

“Saat ini kekuatan Jit-seng-kau sedang berada dalam puncaknya, bila kita harus bertarung sendiri, rasanya sulit untuk menghadapi mereka, jadi ada baiknya kita himpun dulu kekuatan dari berbagai partai besar, baru serentak kita serbu markas Jit-seng-kau dan membantainya hingga punah!”

“Adik Cau,” ujar Suto Bun pula, “bila perlu, kita bisa bergabung dengan Cu bersaudara ….”
“Jangan, kita tak boleh berbuat begitu,” tukas Cau-ji sambil menggeleng, “Siaute putuskan akan membekuk raja penyamun sebelum menghabisi kaum bandit, asalkan Su Kiau-kiau berhasil kita bantai, maka antek-anteknya akan lebih mudah dihabisi.

“Mengenai menjalin kontak dengan partai-partai besar, aku rasa biarlah pihak Siau-lim yang menyelesaikan urusan ini, dengan menyelinap ke dalam tubuh perkumpulan Jit-seng-kau, bukan saja setiap saat Siaute dapat mengawasi gerak-gerik mereka, bila ada kesempatan akan kubekuk Su Kiau-kiau.”

“Apa? Adik cau, kau ingin menyusup ke dalam perkumpulan Jit-seng-kau?” jerit Suto bersaudara kaget.
“Benar! Kalau tidak memasuki sarang harimau, dari mana bisa mendapatkan anak macan? Lagi pula Siaute menyusup ke dalam perkumpulan mereka dengan meminjam identitas keluarga Hek, ditambah lagi kepandaian yang kumiliki, rasanya tidak menjadi masalah untuk menjaga keselamatan sendiri!”

Suto bersaudara tahu apa yang telah diputuskan sulit untuk diubah lagi, karena itu mereka pun membungkam dan tidak bicara lagi.

Sambil tersenyum kata Cau-ji lagi, “Cici, untuk sementara waktu lebih baik kalian berdiam di sini saja sambil membantu enci Ing, waktu para jago dari berbagai partai besar telah berkumpul, saat itulah kita akan berkumpul kembali. Nah, sekarang biar Siaute menjumpai saudara Siang sekalian lebih dahulu.”

Habis berkata, cepat dia tinggalkan ruangan itu.
Sepeninggal anak muda itu, dua bersaudara Suto saling pandang sekejap, tiba-tiba air mata jatuh berlinang.
Melihat itu, dengan keheranan Siau-hong bertanya, “Cici, mengapa kalian bersedih?”

Setelah menyeka air mata, perlahan-lahan Suto Si menceritakan asal-usul Cau-ji serta kejadian mengenaskan yang pernah mereka berdua alami.

Dalam pada itu Cau-ji telah memasuki ruang tengah, di sana ia jumpai para jago sedang berbincang sambil tertawa, maka sembari tersenyum, sapanya, “Engkoh Liong, apakah semua urusan telah beres?”

“Benar! Adik Cau, silakan duduk,” jawab Siang Ci-liong sambil tersenyum.
“Terima kasih!”
Menunggu setelah Cau-ji mengambil tempat duduk, Siang Ci-liong baru berkata lagi sambil tertawa, “Ti-hu Tayjin merasa amat gusar dengan tingkah-laku dan sepak terjang Jit-seng-kau yang begitu berani, saat ini beliau telah mengutus orang untuk melaporkan kejadian ini ke kota
raja.

“Asalkan pihak kerajaan bersedia tampil ke depan, ditambah lagi kerja sama dari berbagai partai besar, aku yakin Jit-seng-kau tak akan bisa menancapkan kaki lagi di dunia persilatan!”

Cau-ji segera menggeleng kepala, ujarnya, “Engkoh Liong, sejak zaman kuno hingga kini, umat persilatan tak pernah berhubungan dengan pihak kerajaan, aku rasa lebih baik persoalan semacam ini kita selesaikan sendiri saja!”

“Kongcu,” ujar Cu Bi-ih serius, “demi melenyapkan lotere Tay-ke-lok yang sudah mewabah ke seantero negeri, pihak kerajaan pernah bekerja-sama dengan umat persilatan untuk menumpasnya, kenapa kita mesti bersikukuh dengan segala peraturan?”

“Nona,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “Cayhe tak lebih hanya seorang bocah kemarin sore yang tak punya nama, biarlah persoalan besar semacam ini diputuskan pihak partai besar saja, sementara Cayhe tak lebih hanya mengemukakan pendapat pribadi!”

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya kepada Siang Ci-liong, “Engkoh Liong, apa rencanamu pribadi untuk masa depan?”
“Jit-seng-kau sudah kelewat banyak melakukan kejahatan, cara mereka bertindak pun kelewat buas dan keji, aku sudah bertekad untuk sementara waktu menghentikan semua usaha perdaganganku, selama Jit-seng-kau belum dimusnahkan, Liong-ing-hong pun tak akan membuka usaha kembali!”

Jawaban Siang Ci-liong ini disampaikan secara tegas dan bersungguh-sungguh.
“Luar biasa!” puji Cau-ji dengan rasa hormat, “nah, begitulah baru pantas jadi engkoh Liong!”
“Adik Cau, kau sendiri ada rencana apa?” tiba-tiba Siang Ci-liong balik bertanya.
“Engkoh Liong, Siaute bertekad akan menyusup ke dalam perkumpulan Jit-seng-kau, aku ingin mencari kesempatan untuk membunuh Su Kiau-kiau!”

Begitu mendengar jawaban itu, seketika itu juga Cu bersaudara serta Siang Ci-ing berubah hebat paras mukanya.
Dengan perasaan cemas seru Siang Ci-liong, “Adik Cau, Jit-seng-kau mempunyai begitu banyak jago tangguh, apa tidak terialu berbahaya dengan memasuki sarang macan seorang diri? Apalagi kami masih membutuhkan bantuanmu dalam masalah menyatukan seluruh partai besar!”

Cau-ji segera berdiri, sahutnya sambil tertawa nyaring, “Hahaha, kalau tidak memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan? Siaute akan menggunakan identitas Hek Hau-wan, seorang yang mempunyai kedudukan sebagai seorang Tongcu untuk menyusup ke dalam Jit-seng-kau, lagi pula aku yakin kungfu yang kumiliki masih lebih dari cukup untuk melindungi diri.”

“Mengenai urusan menyatukan partai besar, aku rasa lebih baik kau saja yang minta bantuan pihak Siau-lim untuk menyelesaikan urusan ini, lagi pula kedua orang Suto Cici juga tetap tinggal di sini sambil mengadakan kontak dengan Siaute.”

Tanpa terasa semua orang dibuat kagum oleh keberanian anak muda ini.
“Betul-betul bernyali!” puji Leng Bang cepat, “coba kalau semua orang mempunyai nyali sebesar dirimu, kita tak usah takut lagi menghadapi Jit-seng-kau!”
“Tidak berani!” ujar Cau-ji sambil berdiri, “Wanpwe masih ada urusan yang harus dirundingkan dulu dengan dua bersaudara Suto, maaf kalau harus mohon diri terlebih dahulu, enci Ing, harap ikut Siaute!”

Selesai berkata dia segera menjura kepada semua orang.
Siang Ci-ing sendiri meski rada malu karena ditunjuk langsung oleh Cau-ji di depan umum, namun rasa malu itu nyaris lenyap oleh perasaan girang yang luar biasa, dengan kepala tertunduk dia segera me-ngintil di belakang anak muda itu.

Sebaliknya tiga bersaudara Cu dengan wajah murung segera menundukkan kepala tanpa bicara.
Leng Bang maupun Chin Tong adalah orang-orang kawakan, tentu saja mereka tahu kalau Cu bersaudara merasa sedih karena tidak diperhatikan Cau-ji, untuk sesaat mereka pun tak tahu apa yang harus dilakukan.

Beberapa saat kemudian terdengar Cu Bi-ih berkata dengan nada tenang, “Siang-kongcu, Siaumoay mohon diri lebih dulu!”
Agaknya Siang Ci-liong merasa sedikit di luar dugaan, tanyanya cepat, “Nona, bukankah tadi kau sudan bersedia makan di sini? Kenapa secara tiba-tiba berubah pikiran?”

“Siang-kongcu,” sahut Cu Bi-ih tersenyum, “Siaumoay kuatir gedung kami pun mendapat serangan, jadi ingin pulang untuk menengok keadaan.”
“Ah … betul, kenapa aku tak berpikir ke situ? Bagaimana kalau kutemani kalian?”
Cu Bi-ih menggeleng.

“Masih banyak urusan yang harus diselesaikan di tempat ini! Tak berani aku mengusik Kongcu, maaf Siaumoay mohon diri lebih dulu!”
Seusai berkata dia langsung beranjak pergi dari sana.

Terbentur paku, terpaksa Siang Ci-liong mengantar tamunya sampai di depan pintu gerbang.
Sepeninggal tiga bersaudara Cu dan rombongan, ia hanya bisa mengawasi noda darah dan hancuran daging yang berserakan di halaman rumahnya sambil menggeleng kepala berulang kali.

Dia tidak menyangka Liong-ing-hong bakal tertimpa bencana tragis semacam ini.

Ong Sam-kongcu bergelar bangsawan.

Author: 

Related Posts