Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 21

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 21by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 21        My HEROINE [by Arczre] – Part 21 BAB XIV: SECOND IMPACT IV #PoV Yuda# Aku semalaman ada di ruangan ayah. Dan aku tak percaya terhadap apa yang terjadi dengan diriku. Aku sudah mantab memilih sepasang gelang yang ayah tunjukan daripada memilih sepasang karambit. Aku lebih memilih menolong Han Jeong. Sebab aku […]

tumblr_nwvqdlfeNr1ufftt9o2_1280

 

 

 

 

tumblr_nwvqdlfeNr1ufftt9o3_1280My HEROINE [by Arczre] – Part 21

BAB XIV: SECOND IMPACT IV

#PoV Yuda#

Aku semalaman ada di ruangan ayah. Dan aku tak percaya terhadap apa yang terjadi dengan diriku. Aku sudah mantab memilih sepasang gelang yang ayah tunjukan daripada memilih sepasang karambit. Aku lebih memilih menolong Han Jeong. Sebab aku memang mencintai Han Jeong, dan aku ingin bisa juga untuk melindunginya. Tapi untuk apa sepasang gelang ini?

“Pesanku, jaga baik-baik gelang itu. Itu adalah satu-satunya benda yang bisa menyelamatkan Han jeong. Gunakanlah sekarang!” kata ayah.

“Sekarang yah? Caranya?”

“Tekan dan tempelkan keduanya! Dia akan mengenali identitasmu,” kata ayah.

Aku pun mengikuti instruksinya. Kutekan dan kutempelkan. Tiba-tiba ada suara.

“GNOME-X SCANNING!”

“Wah, ayah apa ini?” aku panik.

“DNA KEY UNLOCKED. Welcome Yuda, stand by!”

Aku melihat kedua gelang ini berkedip-kedip. Sejurus kemudian aku tekan tombolnya. Aku terkejut ketika seluruh tubuhku tiba-tiba saja ada yang menyelimuti. Aku diselimuti oleh cahaya terang. Tiba-tiba pundakku terasa berat, seperti ketambahan beban. Juga lengan dan kakiku. Aku pun merasa berat sekarang. Tubuhku cukup berat untuk bergerak. Lalu setelah cahaya itu hilang aku merasa tiba-tiba kepalaku sudah terbungkus oleh sesuatu. Aku merabanya. Lho? aku pake helm? Sejak kapan? Tanganku? Wah, tanganku ada armornya. Tubuhku juga.

“Nggak usah panik, ayah akan ceritakan semuanya. Jangan panik!” kata ayah.

Aku pun mencoba tenang.

“Ayah, ini gila. Apa yang terjadi denganku?” tanyaku.

“Ini namanya adalah Gnome-X. Project Super Human Soldier Gnome-X. Gara-gara project inilah kamu kehilangan kakekmu. Gara-gara project inilah ayah harus berurusan dengan pembunuh bayaran nomor satu di dunia, membuat ibumu menjadi yatim. Sekarang ini, kamu menjadi manusia terkuat di bumi. Armormu itu tak akan mudah dijebol oleh apapun. Juga tak akan mudah terbakar. Bahkan dengan armor itu pula kamu tak akan takut untuk berada di suhu terendah sekalipun.”

Aku meraba tubuhku sendiri. Aku masih tak percaya aku bisa berubah.

“Tunggu dulu, kalau ini adalah Gnome-X, bukankah itu artinya ini yang dicari selama ini oleh Ryu?” tanyaku.

“Temanmu dari CCC itu kah?”

“Iya.”

“Benar sekali.”

“Apa aku harus memakainya ayah? Bagaimana kalau nanti dia tahu?”

“Keputusannya ada padamu. Jangan sampai Gnome-X jatuh ke tangan orang yang salah.”

“Bagaimana cara menggunakannya?”

“Kamu bisa baca manualnya. Ada Artificial Intelegence di dalamnya. Panggil saja namanya AI. Kamu juga bisa mengganti namanya menjadi nama lain.”

“Ai?”

“Hello Yuda!” terdengar sebuah suara di telingaku. Inikah AI yang dimaksud? Aku tak boleh panik.

“Apakah kamu mau menunjukkan kepadaku cara untuk menggunakan benda ini?” tanyaku.

“Tentu saja,” jawabnya.

(*:Ilustrasi display monitor di dalam helm Gnome)

Seketika itu di layar helm yang aku pakai muncul banyak sekali menu-menu. Bagaimana cara aku memilih menu-menu itu? Oh, ternyata aku bisa mengontrolnya dengan menggunakan gerakan pupil mataku. Baiklah, ini baru. Aku harus bisa menyesuaikannya. Akhirnya malam itu semalaman aku berlatih di ruangan ayah tanpa tahu apa yang terjadi di luar. Han Jeong, tunggulah aku. Inilah jalan yang aku pilih.

****~o~****

Setelah memahami semuanya tentang Gnome-X, aku melepaskannya. Aku kembali ke wujud manusiaku. Anehnya aku tak merasa lelah. Apakah armor tadi mempengaruhi kekuatan manusiaku juga? Sepertinya begitu. Ketika aku pertama kali memakai gelang ini, otot-ototku seperti mengeras, aliran darahku benar-benar mendidih. Aku seperti bersemangat bahkan aku merasakan energiku naik berkali-kali lipat.

“Aku siap ayah,” kataku.

“Hati-hati,” kata ayahku.

Aku berjalan menaiki tangga. Begitu sampai di lantai atas aku melihat mentari sudah meninggi. Aku semalaman ternyata berada di dalam ruangan ayah. Ke mana Han Jeong? Aku lalu menuju ke joglo. Kenapa orang-orang fokus kepada monitor? Aku terkejut ketika tahu apa yang terjadi. Monster? Besar sekali monsternya. Bertentakel banyak. Menembaki laser beam. Di sebuah layar aku melihat sesuatu. Ada tulisan Black Knight di sana.

“Han Jeong bertahanlah!” kata Hana yang berada di depan monitor itu.

“Bagaimana ia tidak bisa bergerak Prof?” tanya Om Hiro.

“Sepertinya ini bukan dihack, semuanya tampak normal,” kata ayahnya Hana.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Oh, Yuda? Gawat Yud! Han Jeong tak bisa bergerak. Ia tak bisa mengendalikan dirinya!” kata Hana.

“Apa yang bisa aku lakukan?” tanyaku.

“Kita tak bisa lakukan apa-apa? Aku sudah berusaha mengendalikan Han Jeong dari sini tapi tak bisa. Aku juga mencoba untuk mematikan fungsi Nanobot dari jauh tapi tak bisa, ada kekuatan lain yang menahannya. Seperti…telekenesis,” kata Hana.

“Kita tak bisa berspekulasi tapi hanya itu pilihan kita untuk jawaban ini. Tak ada hacking, tak ada penetrasi, tapi bagaimana mungkin Han Jeong tak bisa bergerak? Itulah jawaban satu-satunya,” kata Profesor Andy.

“Para superhero lainnya pun sedang bahu-membahu melawan Monster CUMI-08. Kita hanya bisa berharap kepada Ryu,” kata Hana.

“Maksudku, kalau aku bisa terbang ke sana. Aku punya kekuatan besar. Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.

Semuanya menoleh ke arahku.

“Maksudmu?” tanya Om Hiro.

Aku menunjukkan kepada mereka kedua gelang yang ada di tanganku. “Aku bisa menolong Han Jeong dengan ini.”

“Apa itu?” tanya papanya Hana.

“Ini adalah Gnome-X,” jawabku.

Semua orang tampak terkejut. Bahkan mamanya Han Jeong yang terus khawatir terhadap Han Jeong pun menoleh ke arahku. Hana mendekat ke arahku dan memperhatikan sepasang gelang yang aku pakai. Faiz Hendrajaya Junior juga memperhatikannya. Profesor Andy langsung memegang tanganku dan melihatnya.

“Kamu? Dari mana kamu dapatkan?” tanya Profesor Andy.

“Dari aku,” jawab ayah. Tiba-tiba ia masuk ruangan.

“Itu adalah pemberian dari seorang sahabat. Aku dulu terlibat sebuah peristiwa yang mengharuskan aku melindungi benda ini sampai mati. Hasilnya kakeknya Yuda tewas dalam peristiwa itu. Lalu aku dengan salah seorang teman yang sekarang sudah tiada bertemu dengan anaknya hingga kami akrab dan menjadi sahabat. Ia juga yang berperan besar dalam menyembuhkan luka-lukaku pada pertarungan terakhirku. Kami jugalah yang menghancurkan laboratorium tempat Gnome-X berada agar benda ini tidak jatuh ke tangan orang yang salah,” jelas ayahku.

“Arci, kenapa kamu tidak cerita dari dulu?” tanya Om Hiro.

“Karena aku menunggu anakku untuk siap. Dia sekarang sudah siap,” kata ayah.

Tiba-tiba mamanya Han Jeong memegang kedua tanganku. “Yuda, selamatkan Han Jeong! Kamu mencintainya bukan?”

Aku mengangguk mantab, “Dia adalah hidupku.”

“Satu-satunya cara untuk menyelamatkan dia adalah rusak beltnya,” kata profesor Andy.

“Apa tidak bisa dicancel prof?” tanya Hana.

“Tidak, yang dikendalikan adalah Nanobotnya. Entah kekuatan apa yang sekarang ini menguasai Han Jeong, tapi seluruh Nanobotnya tak bisa bergerak. Ia seperti diperintah oleh sesuatu. Aku juga tak tahu apa yang terjadi, tapi kalau kita menghancurkan beltnya. Maka Nanobot tidak akan punya energi lagi, karena semuanya bersumber kepada The Box. Ketika terputus jaringan energinya dengan The Box, Nanobot itu akan memisahkan diri menjadi debu. Itu artinya…” profesor Andy tak melanjutkan.

“Han Jeong tidak bisa menjadi Black Knight lagi,” gumam Hana.

“Aku tak peduli,” kata Tante Moon. “Selamatkan Han Jeong Yuda! Selamatkan dia!” Matanya berkaca-kaca menatapku.

Aku sudah pasti akan menyelamatkannya. Tante Moon melepaskan pegangannya, aku kemudian berbalik. “Menghancurkan beltnya bukan? Aku bisa. Aku akan selamatkan Han Jeong. Semuanya, aku berangkat!”

Aku menekan tombol di gelangku kemudian kusatukan.

“Stand By! GNOME CHANGE!” terdengar suara AI di gelangku. Seperti kemarin. Tubuhku diselimuti cahaya. Dalam sekejap aku sudah berubah. Tubuhku tertutup sebuah armor yang keras.

“Whoaaaaa! Kereeeenn!” seru Hana. Aku menoleh melihat reaksi semua orang yang ada di ruangan itu. Terkecuali ayahku mereka semua tampak takjub melihatku.

Aku berjalan meninggalkan Joglo itu.

“Eh, tunggu Yud! Frekuensimu! Kita bisa komunikasi?” tanya Hana.

“Bisa, Ai akan mengurusnya,” kataku.

“Ai?”

“Artificial Intelegence,” jawabku.

Aku pun berlari keluar rumah. Dan ketika sudah sampai di halaman, aku hentakkan kakiku ke tanah di punggungku ada sebuah mesin pendorong, bukan jet tapi lebih dari jet. Mesin pendorong ini entah memakai teknologi apa, tapi inilah caraku untuk terbang. Dalam sekejap aku sudah berada di udara, melesat di ketinggian 20.000 kaki.

“Ai, sambungkan aku ke Hana!” kataku.

“Done!” kata Ai.

“Hana!?” sapaku.

“Yuda?” katanya.

“Di mana Han Jeong?” tanyaku.

“Di pelabuhan,” jawabnya. “Wow, Yud! Kamu bisa terbang?”

“Begitulah. Sambungkan komunikasiku dengan kalian, agar aku bisa bicara dengan Han Jeong,” kataku.

“OK, sudah,” jawab Hana.

“Ai, kecepatan penuh!” kataku.

WUUUZZZZZZZZZZ! Whoaaa! Aku seperti berada di atas pesawat, tapi ini lebih keren. Karena aku terbang. Perasaanku ketika terbang ini, bebas, lepas. Kenapa aku jadi bayangin jadi tokoh anime Dragon Ball ya? Jadi seperti Son Go Ku??

“Han Jeong bertahanlah!” terdengar suara Hana. “Bantuan datang.”

“Bantuan katamu? Siapa?” terdenar suara Han Jeong

“Sudahlah, tunggu saja. Kamu juga nggak akan percaya. Dan dengan sangat terpaksa aku harus katakan kamu tidak akan menjadi Black Knight lagi.”

“Maksudnya?”

“Satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu adalah belt itu harus dihancurkan. Kita tak bisa berbuat apa-apa dari sini. Kami sudah mencoba untuk mematikan OS-nya dari sini, tapi tak bisa.”

“Ada tombol cancelnya, tak perlu dihancurkan bukan?”

“Kemungkinannya kecil, emangnya kamu kira mudah apa mendekatimu sambil melayang kaya’ gitu?”

“Yuda, andai engkau ada di sini. Hana, kalau ini saat terakhirku, aku boleh minta tolong?” kata Han Jeong.

“Apaan? Kamu jangan ngomong gitu? Kamu nggak kenapa-napa Han Jeong,” kata Hana.

“Tidak Hana, aku ingin bilang. Aku sayang papa sama mama. Juga kalian. Dan aku ingin kamu sampaikan ke Yuda, bahwa aku sangaat mencintai dia. Aku tahu rasa kebersamaanku dengan dia kurang. Aku dan dia selalu bertengkar, tapi kemudian aku sadari, bahwa aku sekarang sangat mencintai dia. Aku akan melakukan apa saja demi Yuda. Kumohon sampaikanlah ini kepada Yuda kalau dia sudah keluar,”

Hana terdiam. Aku tahu perasaan Han Jeong saat ini. Ia sudah pasrah, ia sudah diambang kekhawatiran. Ia tak tahu lagi harus bagaimana dalam kondisi seperti itu. Jangan menyerah Han Jeong. Cintaku, aku datang.

“Han Jeong, kenapa kamu tak bilang sendiri ke Yuda?” tanya Hana.

“Maksudnya?” Han Jeong bingung.

“Tuh dia datang,” kata Hana.

“Mana?”

Monster itu ya? Aku bisa melihatnya. Besar seperti seekor Cumi-cumi? Eh, gurita. Tapi tak mungkin dikatakan gurita namanya saja CUMI-08. Dengan kecepatan penuh aku pun menghantam tubuh monster itu dengan tinjuku. Sang monster pun terhempas kembali ke lautan BYURRR! Aku menoleh ke arah Han Jeong dengan balutan baju Black Knightnya. Tiba-tiba Han Jeong bergerak melayang dengan cepat memukulku DUESSHH! Aku tak terasa sakit, pukulan Han Jeong seperti tak bertenaga.

Dengan cepat aku pegang kedua lengannya.

“Han Jeong, ini aku Yuda!” kataku.

“Y…Yuda? Kamu Yuda??” tanyanya.

“Ini aku sayangku. Ini aku,” jawabku

“Yuda…? Iya, kamu Yuda,” terdengar suara Han Jeong gemetar.

“Inilah jawabanku Han Jeong. Biarkan aku menolongmu sekarang, sayangku maafkan aku selama ini. Aku tak bisa melindungimu, aku mungkin tak pernah sedikit pun mengerti dirimu. Setiap kita bertemu, kita selalu bertengkar, tapi ternyata aku baru tahu kalau kekasihku adalah seorang pahlawan. Dan aku sangat bangga sekali punya kekasih seorang superhero.”

“Yuda…”

“Aku akan menyelamatkanmu. Aku berjanji.”

“Aku percaya kepadamu, Yuda.”

Aku melepaskan peganganku, Han Jeong tiba-tiba memukulku. Tidak aku tidak merasa sakit. Apakah ini karena kekuatanku. Ada pedang Nanobot di tangan Han Jeong, pedang itu pun kemudian dihunuskan kepadaku. Dan sesuatu yang tak pernah aku ketahui dan kuduga sebelumnya. Pendang Nanobot itu seperti rapuh ketika ingin menembus tubuhku. Pedang itu hancur.

“Han Jeong, maaf. Tapi aku harus merusak belt ini,” kataku.

Dengan cepat aku memegang belt milik Han Jeong, kemudian dengan tenagaku aku meremasnya. Seketika itu juga Nanobot yang menyelimuti tubuh Han Jeong berubah menjadi debu. Aku kemudian memeluk Han Jeong. Wajah Han Jeong terlihat bercucuran air mata. Dia memelukku erat ketika seluruh Nanobot di tubuhnya pergi.

“Yuda….aku mencintaimu,” bisik Han Jeong.

“Ayo, kita cari tempat yang aman buatmu,” kataku.

Han Jeong mengangguk.

“Syukurlah Han Jeong selamat!” seru Hana.

Aku segera terbang menjauh dari tempat itu. Menjauh sampai kira-kira aku merasa Han Jeong aman. Yang bisa aku pikirkan adalah gedung M-Tech. Gedung tertinggi di Jakarta. Aku kemudian menurunkan Han Jeong di atap gedungnya.

“Ini gedung kakekmu bukan?” tanyaku.

Han Jeong mengangguk.

“Hana, aku turunkan Han Jeong di gedung M-Tech, jemput dia ya!?” kataku.

“Beres, Om Hiro! Han Jeong ada di gedung M-Tech!” kata Hana. “OK, Om Hiro sedang menghubungi kakek. Yuda, bereskan monster itu!”

“OK,” aku melepaskan bentuk Gnome-X.

Kini Han Jeong bisa melihatku seutuhnya. Wujud asliku. Dia memelukku lagi. Kami kemudian berciuman sangat dalam. Seolah-olah kami tidak pernah bertemu dalam waktu yang lama. Setelah itu aku ciumi keningnya, pipinya, lalu kembali lagi ke bibirnya. Ia lalu mendorongku.

“Hajar dia, pahlawanku!” kata Han Jeong.

Aku tersenyum. Kuberikan belt miliknya. Han Jeong menerimanya.

“Semoga Profesor Andy bisa memperbaiki itu,” kataku.

“Jangan khawatir, beliau sangat pintar koq,” katanya.

“Sampai nanti, cintaku,” kataku.

Aku kembali berubah menjadi Gnome-X. Dengan satu hentakan aku sudah berada di udara lagi. Menuju ke pelabuhan ke tempat monster CUMI-08 berada. Inilah hari pertamaku menjadi superhero. Kuharap aku bisa menyelamatkan banyak orang. Tunggu aku Han Jeong. Aku akan kembali.

(bersambung…..)

Author: 

Related Posts